PENDEKATAN BEHAVIORAL DAN KOGNITIF SOSIAL
DALAM PENGAJARAN.
ABSTRAK
Pendekatan behavioral dan kognitif sosial adalah bagian dari pendekatan
dalam ilmu pendidikan yang berkaitan dengan psikologi pendidikan. Behavioral
dikenal dengan pendekatan yang mendalami tentang perilaku dalam hubungan antara
stimulus dan respon atas stimulus tersebut yang tidak berkaitan dengan proses
mental, dan kognitif sosial mendalami dari segi kognisi, perilakulingkungan
murid, termasuk dengan hubungan yang saling mempengaruhi dari ketiga aspek
tersebut. Serta hubungan antara kognitif, sosial
Kata kunci:
behavioral, perilaku, stimulus, respons, kognitif sosial, unconditioned
conditione.
A. PENDEKATAN BEHAVIORAL
Behavioral adalah pendekatan pembelajaran yang
akan didiskusikan dalam makalah ini. Sedangkan behaviorisme adalah pandangan
yang menyatakan bahwa perilaku harus dijelaskan melalui pengalaman yang dapat
diamati, bukan dengan proses mental. Kaum behavioral menyatakan bahwa perilaku
adalah segala sesuatu yang kita lakukan dan bisa dilihat secara langsung seperti
anak membuat poster, guru tersenyum pada anak, murid mengganggu murid lain, dan
lain sebagainya.
Proses mental didefinisikan oleh para psikolog
sebagai pikiran, perasaan, dan motif yang dialami tetapi tidak bisa dilihat
oleh orang lain. Meskipun semua itu tidak dapat terlihat, namun semuanya adalah
sesuatu yang riil. Proses mental antara lain adalah pemikiran anak tentang cara
membuat poster, perasaan senang guru terhadap muridnya, dan motivasi anak untuk
mengontrol perilaku.
Behavioris berpendapat bahwa pemikiran,
perasaan, dan motif bukanlah subjek yang tepat untuk ilmu perilaku karena
semuanya itu tidak dapat diobservasi secara langsung. Pandangan behavioral,
yaitu pengondisian klasik dan operan merupakan pandangan yang menekankan
pembelajaran asosiatif (assosiative learning) yang terdiri dari
pembelajaran bahwa dua kejadian saling terkait (assosiative)[1].
Misalnya, pembelajaran asosiatif terjadi ketika murid mengasosiasikan atau
mengaitkan kejadian yang menyenangkan dengan suatu pembelajaran di sekolah.,
seperti guru tersenyum saat murid mengajukan pertanyaan yang bagus. Diskusi
analisis perilaku terapan juga mencerminkan pandangan behavioral yang fokus
pada perilaku yang dapat diamati dan pembelajaran asosiatif.
Pendekatan behavioral menekankan arti penting
dari bagaimana anak membuat hubungan antara pengalaman dan perilaku, pendekatan
behavioris dikenal dengan dua tipe:
1. Pengondisian klasik
Pengondisian klasik adalah tipe pembelajaran yang suatu organisme belajar
untuk mengaitkan atau mengasosiasikan stimulus. Dalam pengondisian klasik,
stimulus netral (seperti melihat orang) diasosisasikan dengan stimulus yang
bermakna (seperti makanan) dan menimbulkan kapasitas untuk mengeluarkan respons
yang sama. Untuk memahami pengondisian klasik, harus dipahami dua tipe stimulus
dan respons. Yaitu unconditioned stimulus (US), unconditioned
response (UR), conditioned stimulus (CS), coonditioned response (CR).
Adapun keempat-empatnya akan dijelaskan berserta contohnya sebagaimana yang
dieksperimenkan oleh Pavlov sebagai berikut:
a. unconditioned stimulus (US)
Unconditioned stimulus (US) adalah suatu stimulus yang secara
otomatis menghasilkan respons tanpa adanya pembelajaran terlebih dahulu. Sebagaimana
pada eksperimen yang dilakukan Pavlov, contohnya adalah makanan yang diberikan
kepada anjing. Makanan pada kasus ini adalah substansi dari unconditioned
stimulus (US).
b. unconditioned response (UR)
Unconditioned response (UR) adalah respons yang tidak dipelajari yang
secara otomatis dihasilkan oleh Unconditioned stimulus (US). Berkaitan
dengan contoh makanan yang diberikan kepada anjing, maka hal tersebut akan
mengakibatkan anjing mengeluarkan air liur. Proses keluarnya air liur itu
adalah respons terhadap makanan, dan respons tersubut tidak dipelajari oleh
anjing dan secara otomatis terjadi pada anjing sebagai respons terhadap
makanan.
c. conditioned stimulus (CS)
Conditioned stimulus (CS) adalah stimulus yang sebelumnya netral yang
akhirnya menghasilkan conditioned response (CR) setelah diasosiasikan
dengan Unconditioned stimulus (US). Diantara stimulus yang terkondisikan
sebagai contoh dalam eksperimen adalah beberapa penglihatan dan suara yang
terjadi sebelum menyantap makanan, seperti lonceng yang selalu dibunyikan
sebelum makanan ditempatkan di piring anjing.
d. conditioned response (CR)
conditioned response (CR) adalah respons yang dipelajari terhadap
stimulus (yang terkondisikan oleh US dan CS) yang muncul. Eksperimen tersebut
menghasilkan munculnya conditioned response (CR) pada anjing dengan
mengeluarkan air liur setelah mendengar lonceng berbunyi.
2. Pengondisian operan
Pengondisian operan yang bisa juga disebut pengondisian instrumental adalah
bentuk pembelajaran yang konsekuensi-konsekuensi dari perilaku menghasilkan
perubahan dalam probabilitas dalam perilaku itu akan diulangi. Arsitek utama
dari pengondisian operan adalah B.F. Skinner yang pandangannya didasarkan pada
pandangan E.L. Thorndike.
Pengondisian operan ini dipengaruhi oleh beberapa hal. Pertama, hukum
efek. Yaitu hukum yang menyatakan bahwa perilaku yang diikuti dengan hasil
positif akan diperkuat dan bahwa perilaku yang diikuti dengan hasil negatif
akan diperlemah. Pernyataan utamanya Thorndike adalah bagaimana respons
stimulus yang benar (S-R) ini menguat dan akhirnya mengalahkan respons stimulus
yang tidak benar. Asosiasi S-R yang tepat akan diperkuat, dan asosiasi yang
tidak tepat akan melemah karena konsekuensi dari tindakan organisme. Pandangan
ini disebut oleh Thorndik sebagai teori S-R karena perilaku organisme dilakukan
sebagai akibat dari hubungan antara stimulus dan respons.
Kedua, penguatan (imbalan) dan hukuman, yaitu konsekuensi yang meningkatkan
probabilitas bahwa suatu perilaku akan terjadi. Sebaliknya, hukuman
(punishment) adalah konsekuensi yang menurunkan probabilitas terjadinya suatu perilaku.
Contohnya ketika dikatakan kepada murid “selamat, saya merasa senang setelah
membaca cerita yang kalian tulis.” Jika murid bekerja lebih baik lagi untuk
cerita selanjutnya, komentar positif yang murid dapatkan merupakan penguat atau
memberi imbalan pada perilaku menulis murid. Jika diberikan ekspresi mengerut
pada murid yang bicara di kelas dan kemudian perilaku bicara itu menurun, maka
muka yang mengerut itu merupakan hukuman bagi tindakan si murid.
Ketiga, penguatan. Pada prinsipnya penguatan memiliki
dua sisi, yaitu penguatan positif dan penguatan negatif. Penguatan positif
berdasarkan prinsip bahwa frekuensi respons meningkat karena diikuti dengan
stimulus yang mendukung (rewarding). Sedangkan penguatan negatif berdasarkan prinsip bahwa frekuensi respons
meningkat karena diikuti dengan penghilangan stimulus yang merugikan (tidak
menyenangkan).
B. PENDEKATAN KOGNITIF SOSIAL
Kognitif sosial pendekatan yang menyatakan
bahwa faktor sosial dan kognitif, dan faktor perilaku, memainkan peran penting
dalam pembelajaran. Faktor kognitif mungkin berupa ekspektasi murid untuk
meraih keberhasilan. Faktor sosial mungkin mencakup pengamatan murid terhadap
perilaku orang tua.
Salah satu penggagas teori ini adalah Albert
Bandura. Dia mengayakan bahwa ketika murid belajar, mereka dapat
merepresentasikan atau mentransformasikan pengalaman mereka secara kognitif.
Bandura mengembangkan model determinisme
resiprokal yang terdiri dari tiga faktor utama. Yaitu, perilaku,
person/kognitif, dan lingkungan. Faktor-faktor ini saling berinteraksi untuk
memengaruhi pembelajaran. Faktor lingkungan memengaruhi perilaku. Sebaliknya,
perilaku memengaruhi lingkungan. Faktor person/kognitif memengaruhi perilaku,
dan sebaliknya. Faktor kognitif mencakup ekspektasi, keyakinan, strategi,
pemikiran, dan kecenderungan.
Perhatikan bagaimana model Bandura dalam
kasusu perilaku akademik murid sekolah menengah yang bisa disebut sebagai Nila.
1. Kognisi memengaruhi perilaku. Nila menyusun strategi kognitif untuk
berfikir secara lebih mendalam dan logiss tentang bagaimana cara menyelesaikan
suatu masalah. strategi kognitif meningkatkan perilaku akademik.
2. Perilaku memengaruhi kognisi. Proses (periaku) belajar Nila membuatnya
mendapat nilai baik, yang pada gilirannya menghasilkan ekspektasi positif
tentang mendapat kemampuannya dan membuat dirinya percaya diri (kognisi).
3. Lingkungan memengaruhi perilaku. Sekolah tempat belajar Nila baru-baru ini
membangun program prconrohan keterampilan-belajar untuk mebantu murid belajar
cara membuat catatan, mengeola waktu, dan mengerjakan ujian secara lebih
efisien. Program keterampilan belajar ini meningkatkan perilaku akademik Nila.
4. Perilaku memengaruhi lingkungan. Program keterampilan belajar berhasil
meningkatkan perilaku akademik banyak murid di kelas Nila. Perilaku akademik
yang meningkat ini memicu sekolah untuk mengembangkan program itu sehingga
semua murid di sekolah itu bisa turut serta.
5. Kognisi memengaruhi lingkungan. Ekspektasi dan perencanaan dari kepala
sekolah dan para guru meningkatkan program keterampilan-belajar itu terwujud.
6. Lingkungan memengaruhi kognisi. Sekolah tersebut mendirikan pusat sumber
daya di mana murid dan orant tua dapat mencari buku dan materi tentang
peningkatan keterampilan belajar. Pusat belajar ini juga memberikan layanan tutoring
keterampilan belajar untuk murid. Nila dan orang tuanya memetik keuntungan
dari itu toring dan pusat sumber
daya ini. Layanan ini meningkatkan keterampilan berfikir Nila.
C. Penutup
1. Behavioral dan kognitif sosial memiliki pengertian yaitu Pendekatan
behavioral dan kognitif sosial adalah bagian dari pendekatan dalam ilmu
pendidikan yang berkaitan dengan psikologi pendidikan.
2. Dalam pendekatan behavioral memiliki dua tipe yaitu: pengondisian klasik
dan pengondisian operan. sedangkan kognitif sosial memiliki beberapa faktor
yang saling kerkolerasi, Bandura
mengembangkan model determinisme resiprokal yang terdiri dari tiga faktor
utama. Yaitu, perilaku, person/kognitif, dan lingkungan.
3. Penggagas pendekatan behavioral Pavlov dan kognitif
sosial adalah Bandura, dia mengembangkan
model determinisme resiprokal yang terdiri dari tiga faktor utama. Yaitu,
perilaku, person/kognitif, dan lingkungan.
[1] Pearce, 2001

Komentar
Posting Komentar