A.
PENDAHULUAN
1.
Latar belakang
Dalam UU No. 20
tahun 2003, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan
suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,
pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan,
yang diperlukan dirinya, masyarakat dan negara.
Kehidupan
manusia yang berperadaban tak lepas dari peran pendidikan yang berjalan dalam
kehidupan itu sendiri. Pendidikan menjadi indikator dalam mengetahui tingkat
perkembangan peradaban manusia. Didalamnya terdapat sosok pendidik yang menjadi
pemeran utama dalam perkembangannya, pendidik menjadi penggerak berkembang
tidaknya suatu pendidikan. Peserta didik yang berhasil tak terlepas dari
keberhasilan pendidik itu sendiri dalam menjalankandan proses pendidikannya.
Pada pembahasan
kali ini, pendidik tidak hanya sebatas seorang guru yang mengajar di sekolah.
Namun lebih dari itu, pendidik kali ini dilihat dari sudut pandang yang lebih
luas dalam lingkungan keluarga, lingkungan sekolah hingga dalam lingkungan
masyarakat.
Pendidik dalam
pendidikan islam dikenal dengan 4 macam yaitu: Allah SWT, Rasulullah Saw, Guru
dan Orang Tua
2.
Rumusan masalah
Dalam
pembahasan ini yang menjadi persoalan yang kemudian dimasukkan ke dalam rumusan
masalah ialah sebagai berikut:
a.
Apa itu pendidik?
b.
Kenapa orang tua, guru dan pemimpin/tikoh masyarakat dikatakan
pendidik?
c.
Apa peran dari orang tua, guru dan pemimpin/tokoh masyarakat sebagai
pendidik?
B.
PEMBAHASAN
1.
Pengertian pendidik
Pendidik adalah
orang yang mendidik[1].
Dalam UU No. 20 th 2003 pada bab I Pasal 1 ayat dikatakan “pendidik adalah tenaga
kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar,
widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai
dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan”
Pendidik dalam topik pembahasan kali ini adalah:
a.
Orang tua
Orang tua yaitu
ayah ibu kandung, orang tua angkat yaitu pria dan wanita yang menjadi dan ibu
seseorang berdasarkan adat atau hukuk yang berlaku dan orang tua asuh, yaitu
orang yang membiayai (sekolah dan sebagainya) anank yang bukan anaknya sendiri
atas dasar kemanusiaan
Menurut Thamrin
Nasution, orang tua merupakan setiap orang yang bertanggung jawab dalam suatu
keluarga atau tugss rumah tangga yang dalam kehidupan seharihari disebut
sebagai bapak dan ibu. Jika menurut hurlock, orang tua merupakan orang dewasa
yang membawa anak ke dewasa, terutama dalam masa perkembangan. Tugas orang tua
melengkapi dan mempersiapkan anak menuju ke kedewasaan dengan memberikan
bimingan dan pengarahanyang dapat membantu anak dalam menjalani kehidupan.
Dalam membetikan bimbingan dan pengarahan pada anak akan berbeda pada masa
masing-masing orang tua karena setiap keluarga memiliki kondisi-kondisi
tertentu yang berbeda corak dan sifatnya antara keluarga yang satu dengan
keluarga yang lain[2].
b.
Guru
Guru adalah
orang yang pekerjaannya (mata pencahariannya, profesinya) mengajar.[3]
Sebagai mana disebutkan, guru memegang peran penting dalam menentukan kualitas/keberhasilan
pendidikan. Guru yang baik adalah yang seluruh pikirannya, hati dan tindakannya
dicurahkan untuk menuhkembangkan potensi yang dimiliki siswanya. Guru merupakan
agen perubahan perilaku siswa melalui interaksi dalam pembelajaran. Hubungan
guru-murid akan sangat mempengaruhi keberhasilan proses pembelajaran . sikap
guru terhadap murid yang salah akan berakibat kegagalan guru dalam mengajar dan
kegagalan dalam proses pendidikan pada umumnya[4]
c.
Pemimpin/tokoh masyarakat
Dilihat dari
akar katanya yaitu pimpin atau dipimpin dalam kbbi adalah (dalam
keadaan) dibimbing; dituntun[5].
Pemimpin adalah orang yang memimpin, buku petunjuk (pedoman)[6].
Suradinata berpendapat bahwa pemimpin adalah orang yang memimpin kelompok dua
orang atau lebih, baik organisasi maupun keluarga. Sedangkan kepemimpinanan
adalah kemampuan seorang pemimpin untuk mengendalikan, memimpin, mempengaruhi
fikiran, perasaan atau tingkah laku orang lain untuk mencapai tujuan yang telah
ditentukan sebelumnya. Dari situ dapat diasumsikan bahwa pemimpin adalah
seorang yang melakukan bimbingan atau tuntunan kepada kelompok dua orang atau
lebih, baik itu organisasi ataupun keluarga. Sementara tokoh masyarakat adalah
dua unsur kata yaitu tokoh dan masyarakat
yang tokoh masyarakat menjadi orang yang dianggap serba tahu dan
mempunyai pengaruh yang besar terhdap masyarakat sehingga segala
tindak-tanduknya merupakan pola aturan yang patutu diteladani oleh masyarakat.
2.
Alasan Orang tua, guru dan pemimpin/tokoh masyarakat dikategorikan
sebagai pendidik adalah sebagai berikut:
a.
Orang tua
Orang tua adalah pendidik
pertama setelah kelahiran. Dikatakan sebagai pendidik karena pertumbuhan,
perkembangan dan pembentukan kepribadian anak dilakukan oleh orang tua. Orang
tua adalah kunci utama yang harus terlebih dahulu benar-benar memahami dan
mampu menerapkan nilai-niali dari tiga prinsip dasar, yaitu:
-
Kemerdekaan
-
Kesamaan
-
Saling terima[7]
b.
Guru
Guru memiliki
banyak tugas, baik yang terkait oleh dinas maupun di luar dinas dalam bentuk
perhatian. Peran guru antara lain:
-
Sebagai manajer pendidikan atau pengorganisasian kurikulum
-
Sebagai fasilitator pendidikan
-
Pelaksana pendidikan
-
Pembimbing dan supervisor
-
Penegak disiplin
-
Menjadi model perilaku yang akan ditiru siswa
-
Sebagai konselor
-
Menjadi penilai
-
Petugas tata usaha tentang administrasi kelas yang diajarnya
-
Menjadi komunikator dengan orang tua sisiwa dengan masyarakat
-
Sebagai pengajar untuk meningkatkan profesi secara berkelanjutan
-
Menjadi anggota organisasi profesi kependidikan[8]
Menjadi guru yang baik memiliki beberapa hal yang harus dimiliki,
yaitu:
-
Sifat yang baik
Guru yang
baik harus mempunya sifat dan kepribadian yang antusias, stimulatif, mendorong
siswa untuk maju, hangat, berorientasi pada tugas dan bekerja keras, toleran,
sopan, dan bijaksana. Guru pun harus bisa dipercaya, fleksibel, dan mudah
menyesuaikan diri, demokrastis, penuh harapan bagi siswa, tidak semata mencari
reputasi pribadi, mampu mengatasi stereotype siswa, bertanggung jawab
terhadap kegiatan belajar siswa, mampu menyampaikan perasaannya, dan memiliki
pendengaran yang baik.
-
Pengetahuan
Guru yang
baik harus memiliki pengetahuan yang memadai dalam mata pelajaran yang menjadi
tanggung jawabnya. Dan harus mengikuti kemajuan dalam bidang itu.
-
Apa yang disampaikanbagaimana mengajar
Guru yang baik harus mampu memberikan jaminan bahwa materi yang
disampaikannya mencakup semua unit bahasan yang diharapkan siswa secara
maksimal.
-
Bagaimana mengajar
Guru harus
mampu menjelaskan berbagai informasi secara jelas dan terang. Mendorong semua
siswa untuk berpartisipasi, memonitor, dan bahkan sering mendatangi tempat
duduk siswa., melakukan formative test
dan post test, menggunakan beberapa bahan tradisional,
berpartisipasi, dan mampu memberikan perbaikan terhadap kesalahan konsepsi yang
dilakukan siswa.
-
Harapan
Guru yang
baik mampu memberikan harapan pada siswa, membuat siswa akuntabel, dan
mendorong partisipasi orang tua dalam memajukan kemampuan akademik siswanya.
-
Reaksi guru terhadap siswa
Guru yang
baik bisa menerima berbagai masukan, risiko, dan tantangan. Selalu memberikan
dukungan pada siswanya konsisten dalam kesepakatan dengan siswa, bijaksana
terhadap kritik siswa, mampu menyediakan waktu yang pantas untuk siswa
bertanya, cepat dalam memberikan feedback bagi siswa dalam membantu
mereka belajar.
-
Manajemen
Guru yang
baik harus mampu menunjukkan keahlian dalam perencanaan, memiliki kemampuan
dalam mengorganisasi kelas sejak hari pertama ia tugas. Cepat memulai kelas,
melewati masa transisi dengan baik, dapat meminimalisasi gangguan, dapat
menerima suasana yang tenang dalam belajar dan tetap dalam menjaga siswa untuk
tetap belajar menuju sukses.
c.
Pemimpin atau tokoh masyarakat
“Sebaik-baik
pemimpin diantara kalian ialah pemimpin yang kalian cintai dan mencintai
kalian, kalian mendo’akannya dan merekapun mendo’akan kalian, dan seburuk
buruknya pemimpin diantara kalian ialah pemimpin yang kalian benci dan membenci
kalian, kalian melaknatnya dan mereka pun melaknat kalian”.(HR Muslim dari ‘Auf
bin Malik)
1)
Tokoh masyarakat
Masyarakat
sebagaimana dikemukakan oleh Astrid S Susanto adalah kesatuan yang didasarkan
pada ikatan-ikatan yang sudah teratur dan boleh dikatakan stabil.[9]. di
dalam literasi inggris, masyarakat sering disebut society, commonity, atau
grup. sedangkan dalam istilah islam dijumpai istilah shu’ub,
qabail, jama’ah, ijtima’iyah, qaum dan ummat. Istilah-istilah ini
pad prinsipnya sama yaitu menunjuk pada adanya kelompok sosial. Namun, dasarnya
saja yang berbeda[10].
Sebagaimana telah dikemukakan diatas, bahwa antara masyarakat dan pendidikan
memiliki hubungan timbal balik, fungsional simbiotik dan equal. Dari satu segi
masyarakat memengaruhi pendidikan, dan dari sisi lain pendidikan memengaruhi
masyarakat.[11]
Tokoh masyarakat dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu:
-
Tokoh masyarakat formal
Tokoh masyarakat formal adalah seorang yang ditokohkan karena
kedudukannya atau jabatannya di lembaga pemerintah seperti:
a.
Camat
b.
Kepala desa/lurah
c.
Ketua RT/RW dan lain sebagainya
-
Tokoh masyarakat informal
Seseorang
ditokohkan oleh masyarakat di lingkungannya akibat dari pengaruh, posisi dan
kemampuannya yang diakui oleh masyarakat di lingkungan tersebut. Seperti:
a.
Tokoh agama
b.
Tokoh adat
c.
Tokoh pemuda dan lain sebagainya.
Peran atau
Sumbangan masyarakat terhadap pendidikan adalah sebagai tempat melakukan
sosialisasi, kontrol sosial, pelestarian budaya, seleksi pendidikan dan
perubahan sosial, serta sebagai lembaga pendidikan:
1.
Sosialisasi atau bermasyarakat merupakan salah satu kemampuan yang
harus dimiliki setiap orang. Para peserta didik yang belajar di sekolah, suatu
saat akan menjadi anggota masyarakat, karena kelangsungan kehidupannya lebih
lanjut berada di masyarakat. Daalam sosialisasi tersebut diberikan pengetahuan
tentang nilai-nilai budaya, tradisi, adat istiadaat, norma, ajaran atau
perundang-undangan dan lainnya yang ada di masyarakat, sehingga pada saat
berinteraksi dan berkomunikasi dalam sosialisasinya itu akan berjalan secara
tertib, aman dan damai, tidaak bentrok, konflik dan perpecahan.
2.
Kontrol sosial. Masyarakat adalah kumpulan dari sejumlah orang yang
tinggal di suatu wilayah, memiliki komitmen, cita-cita dan tujuan yang sama,
serta terikat, patuh dan tunduk pada nilai-nilai agama, serta nilai-nilai lain
yang disepakati bersama. Setiap anggota masyarakat disamping mendapakan hak-hak
dan jamin untuk hidup, mengembangkan pendidikan dan berfikir, memilih,
menghayati dan mengamalkan agamanya, menentukan bidang usaha ekonominya dan
melanjutkan keturunannya, juga memiliki tanggung jawab sosial dan moral (social
and moral obligation) yang di dalam ajaran agama disebut sebagai fardlu
kifayah (kewajiban kolektif). Dan pemerintah melaksanakan amar ma’ruf
nahi mungkar (memerintah orang lain agar berbuat baik dan mencegahnya dari
berbuat mungkar). Dengan demikian masyarakat berperan sebagai kontrol sosial,
yakni mengawasi, memantau dan mencegah orang lain berbuat menyimpang. Dalam
hubungannya denga pendidikan, maka masyarakat memiliki peran ikut mengawasi,
memantau dan mencegah para pelajar dari kemungkinan melakukan berbagai
perbuatan yang merugikan masyarakat.
3.
Masyarakat sebagai pelestari budaya. Sebagaimana telah dipahami,
budaya adalah nilai-nilai, ajaran, aturan, atau norma yang tumbuh, hidup dan
berkembang di masyarakatdan digunakan oleh mereka sebagai acuan, pedoman dan cognitive
framework atau cara pandang yang membingkai pola pikir, pandangan, sikap
dan perbuatandengan demikian, budaya adalah sesuatu yang bersifat batin, jiwa,
konsep dan roh yang memengaruhi sesuatu dan sekaligus membedakan antara satu
dan lainnya. Budaya juga dapat digunakan sebagai sumber inspirasi, motivaasi
dan imajinasi dalam menggerakkan sebuah lembaga atau perusahaan. Dalam rangka
memajukan perusahaan atau kinerja misalnya, dikehendaki adanya pegawai yang
memiliki etos kerja yang tinggi, disiplin, kerja keras, jujur, ramah, santun, kreatif,
inovatif, cermat dan tanggung jawab. Nilai-nilai budaya yang dapat mendukung
terciptanya pegawai yang demikian, nilai-nilai budaya tersebut juga dapat
digunakan sebagai dasar untuk pemimpin dalam menjalankan pemerintahan. Proses
dan tahapan yang dilakukan oleh rasulullah saw. dalam mengubah masyarakat
jahiliyah yang pola pikir, sikap dan perbuatannya dipengaruhi oleh nilai-nilai budaya
yang mengutamakan harta benda yang tercermin dalam perdagangannya yang terbiasa
mengurangi timbangan, takaran, tipuan, riba dan perbudakan; nilai-nilai budaya
yang mengutamakan keturunan yang tercermin dalam sikap mengagungkan kabilah
tertentu; budaya yang mengutamakan tahta yang tercermin dalam dominasi
kekuasaan oleh sekelompok tertentu dan sistem kepemimpinan yang diktator
misalnya, dapat digunakan sebagai sebagai sumber inspirasi bagi para pemimpin
dalam memimpin sebuah tanggung jawab kepemimpinan yang diserahkan kepadanya.
4.
Masyarakat sebagai seleksi pendidikan dan perubahan sosial.
Diketahui bahwa di msyarakat sebagaimana dikemukakan di atas terdapat berbagai
hal yang dibutuhkan lembaga pendidikandan sekaligus dapat digunakan sebagai
bahan pembelajaran. Masyarakat memiliki sumber daya manusia yang memiliki
berbagai keahlian dan profesi: guru, dokter, ahli mesin, budayawan, seniman,
pengusaha, pemilik industri, petani yang sukses, tokoh spiritual dan
sebagainya.
C.
PENUTUP
1.
Kesimpulan
Pendidikan menjadi kunci atas
berjalannya peradaban manusia. Yang membedakan kehidupan primitif dan peradaban
moderen adalah pendidikannya. Adapun persoalan yang sebelumnya disebutkan dalam
rumusan masalah, pada kesempatan kali ini ditarik kesimpulan bahwa
a.
Pendidik bukan hanya sebatas sebagai seorang guru dalam
profesionalnya akan tetapi semua orang dapat menjadi pendidik sesuai dengan
kedudukan dan fungsi masing-masing. Baik orang tua dalam lingkungan keluarga,
guru dalam lingkungan sekolah maupun
pemimpin atau tokoh masyarakat dalam lingkungan masyarakat. Semua menjadi
pendidik sesuai dengan peran masing-masing
b.
Adapun yang menjadi faktor terbesar atas jalannya pendidikan adalah
pendidik, baik itu orang tua yang menumbuhkembangkan anak selama mendidiknya dalam
pembentukan karakter hingga menjadikannya sebagai dewasa, guru yang yang
melanjutkan tugas orang tua sebagai pendidik selama di sekolah disamping
memberikan materi pelajaran, bimbingan, ayoman, dalam mengembangkan kecerdasan
intelektual dan kecerdasan emosional peserta didiknya serta pemimpin atau tokoh
masyarakat yang menjadi contoh dalam bersosialisasi, menjadi kontrol dalam
hubungan sosial, menjadi sumber dalam melestarikan buaya serta menjadi selektor
atas perubahan budaya yang terjadi pada anak atau peserta didik.
2.
Saran
Setiap
karya tulis ilmiah pasti memiliki kekurangan. Besarharapan untuk pembaca akan
koreksi dan sarannya agar lebih mendekatkan kepada perbaikan untuk mendekati
kesempurnaan. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua. Jaza>kumull>ahukhairan
[7] Sjarkawi: pembentukan kepribadian anak (cet. V. Jakarta,
sinar grafika offset, 2014), h. 78
[8] Suprihatiningrum, jamil. Guru profesional (cet. III.
Jogjakarta, ar-ruzz media), h. 26
[9] prof. Dr. H. Abuddin nata, M.A. Sosiologi pendidikan islam h.
55
[10]prof. Dr. H. Abuddin nata, M.A. Sosiologi pendidikan islam
h. 56
[11]prof. Dr. H. Abuddin nata, M.A. Sosiologi pendidikan islam
h. 60
Komentar
Posting Komentar