Disleksia (Masalah Belajar: gangguan belajar)
Belajar di abad 21 ini memang sudah menjadi kebutuhan
primer bagi semua kalangan dan golongan. Tidak menjadi hal yang aneh lagi jika
lembaga-lembaga pendidikan hingga kegiatan-kegiatan literasi sudah mulai
menjamur di lingkungan masyarakat dari perkotaan hingga ke dalam
pelosok-pelosok pedesaan. Rumah baca, teras baca, cafe baca,lembaga-lembaga
yang bergerak di bidang literasi sudah banyak bermunculan di tengah-tengah
masyarakat. Upaya tersebut termasuk kesadaran dan bentuk perhatian yang sangat
tinggi tentang pentingnya belajar sebagai suatu pembelajaran diluar lembaga
pendidikan formal (sekolah).
Dalam proses pembelajaran formal, baik sekolah tigkat
dasar maupun tingkat menengah, upaya dalam mengembangkan pendekatan, strategi,
metode, teknik, taktik, model hingga media pebelajaran terus dilakukan guna
pencapaian tujuan pembelajaran dalam pendidikan. Namun, dari aspek peserta
didik memang tidak menutup kemungkinan mengalami masalah belajar meskipun yang
tersebut diatas telah diupayakan secara maksimal. Hal tersebut bisa diakibatkan
kurang sadarnya Pendidik terhadap kondisi Peserta didiknya jika mengalami
gangguan belajar. Baik itu kondisi gangguan belajar maupun kondisi kesulitan
belajar.
Gangguan belajar dan kesulitan belajar terkadang tidak
dibedakan bahkan tidak dideteksi oleh pendidik ketika dalam pembelajaran.
Sehingga akibatnya, peserta didik yang mengalami gangguan tersebut dicap
sebagai peserta didik bodoh. Padalah dari teori multiple inteligences
dikatahui bahwa tidak ada satu peserta didik pun yang bisa dikatakan
benar-benar bodoh.[1]
Maka dari itu, pendidik perlu memperhatikan peserta didik dengan kondisi
gangguan belarar
Gangguan belajar adalah kondisi masalah terganggunya
perkembangan kognitif karena neurologis dan genetik, artinya gangguan ini
merupakan kondisi masalah belajar yang disebabkan dari dalam otak akibat dari
faktor keturunan. Selain itu penyebab lainnya adalah akibat keracunan logam
berat, keracunan makanan, alergi dan intoleransi makanan, gizi kurang baik,
obat-obatan, zat-zat kimia, gangguan perkembangan refleks (misalnya saat bayi,
anak tidak melalui tahapan merangkak).[2] Jadi, gangguan belajar ini
bersifat premier atau gangguan yang faktornya berasal dari dalam diri peserta
didik dan tidak berasal dari faktor-faktor luar dirinya seperti ingkungan
keluarga, lingkungan sekolah maupun lingkungan masyarakat.
Komentar
Posting Komentar