MEMAHAMI ONTOLOGI, EPISTEMOLOI DAN AKSIOLOGI SEBUAH ILMU
A. Latar Belakang
Filsafat ilmu dan teori keilmuan, sering
direduksi hanya menjadi ajaran tentang metode keilmuan. Lebih jelas lagi, ia
direduksi menjadi sebuah refleksi atau metode-metode yang belum dimasukkan ke
dalam bidang matematika atau logika formal, etika dan nilai. Pada filsafat ilmu
tidak boleh dibatasi atau direduksi hnya sekedar mengenal metode-metode atau
teori-teori. Apabila filsafat ilmu atau teori keilmuan tidak direduksi, maka
sebagai filsafat akan dapat merefleksikan pertanyaan-pertanyaan bersangkut-paut
dengan masalah keilmuan dan kehidupan yang lebih luas.
Relasi pemahaman keilmuan tidak dapat diangkat
sampai ia mampu menunjukkan perbedaan yang mencolok dengan jenis-jenis relasi
keilmuan lainnya.apabila tidak dipergunakan sebagai titik tolak bagi sebuah
usaha pemberian ilmu, mka harus dicari titik berangkat yang lain. Hal ini dapat
dilakukan dari penelitian keilmuan agar penelitian tersebut dapat dijabarkan
sebagai pengertian yang meliputi pencarian, pemutusan, penyelidikan, dan
sebagainya. Sebab, begitu sebuah penelitian berhasil dilakukan secara
sistematis dan metodis, maka segera pula ia akan menjadi sebuah peneitian yang
bersifat keilmuan.[1]
Penetapan terminologi kerap mengambil bentuk
rumusan-rumusan yang menjelaskan persoalan atau masalah dengan tanpa kerancuan.
Secara keseluruhan terminologi merupakan kekayaan sekaligus bekal kehidupan
para filsuf di sepanjang zaaman, demikian juga para ilmuan.
Dari terminologi ontologi, dalam dunia yang
terdiri dari benda-benda (barang-barang, masalah-masalah) yang ditemukan lewat
berbagai sifat (warna, bentuk, kemampuan, dan lain-lain) serta dihubungkan satu
sama lain melalui bermacam ragam hubungan atau relasi. Kaegori-kategori semacam
itu, meskipun dalam sejarah filsafat selalu dapat dipersoalkan, tetapi selalu
saja diperlukan hal praktis dalam ilmu. Sementara epistemologi menjadi sebuah
rumusan objektif yang selalu berkaitan langsung dengan benar atau salah. Karena
sesuatu itu ditentukan sebagai sebuah rumusan yang benar, apabila ia tepat atau
mengena sesuai fakta yang ada. Namun sebaliknya, jika tidak tepat dan tidak
sesuai dengan fakta, maka rumusan itu disebut salah. Landasan ontologi sendiri
berkitan langsung dengan dampak ilmu bagi manusia. Persoalan utamanya adalah
apa manfaat ilmu bagi manusia. Dalam makalah ini akan dijelaskan sebagaimana
pada pembahasan berikut.
B. Rumusan Masalah
Adapun yang menjadi rumusan masalah dalam makalah ini
adalah:
1. Apa itu Ontologi. Epistemologi dan aksiologi?
2. Sudut pandang Apa saja yang ada dalam ontoligi?
3. Apa saja metode untuk memperoleh pengetahuan dalam epistemologi?
4. Apa saja yang menjadi nilai atau kegunaan ilmu itu?
C. Pembahasan
1.
Ontologi
Istilah ontoligi berasal dari bahasa Inggris ontology,
meskipun akar kata ini dari bahasa Yunani on-ontos yang diartikan
ada-keberadan dan logos yang diartikan studi, ilmu tentang. Ada beberapa
pengertian dasar mengenai ontologi, antara lain: pertama, ontologi merupakan
studi dengan ciri-ciri esensial dari yang ada dalam dirinya sendiriyang
berbeda dari studi tentang hal-hal yang ada secara khusus. Dalam mempelajari
yang ada dalam bentuknya yang sangat abstrak, studi kasus tersebut melontarkan
pertanyaan seperti apa itu ada dalam dirinya sendiri.[2]
Kedua, ontoligi juga bisa mengandung
pengertian sebuah cabang filsafat yang menggeluti tata dan struktur realitas
dalam arti seluas mungkin, yang menggunakan kategori-kategori seperti ada atau
menjadi, aktualitas atau potensialitas, esensi, keniscayaan, keniscayaan darar,
bahkan yang ada sebagai yang ada. Ketiga, ontoligi juga bisa merupakan cabang filsafat
yang mencoba melukiskan hakikat ada yang terakhir, ini menunjukkan bahwa segala
hal tergantung pada eksistensinya. Keempat,ontologi juga mengandung pengertian
sebagai cabang filsafat yang melontarkan pertanyaan, apa arti ada dan berada,
juga menganalisis bermacam-macam makna yang memungkinkan hal-hal dapat
dikatakan ada.
Kelima, ontologi bisa juga mengandung
pengertian sebuah cabang filsafat, antara lain ialah:
a.
Menyelidiki status realitas suatu hal,
misalnya apakah objek pencerapan atau persepsi kita nyata atau bersifat ilusi
(meliputi) apakah bilangan itu nyata? Apakah pikiran itu nyata?
b.
Menyelidiki apakah jenis realitas yang
dimiliki hal-hal (misalnya, apa jenis realitasyang dimiliki bilangan? Persepsi?
Pikiran?)
c.
Yang menyelidiki realitas yang menentukan apakah yang kita sebut
realitas.
Dari beberapa pengertian dasar tersebut bisa disimpulkan
bahwa ontoligi mengandung pengertian pengetahuan tetntang yang ada.
a. Sejarah munculnya ontoligi
Istilah ontologi muncul sekitar pertengahan
abad ke 17. Pada waktu itu ungkapan filsafat mengenai yang ada (philosopia
entis) digunakan untuk hal yang
sama. Menutur akar kata Yunani, ontologi
berarti teori mengenai ada yang berada.[3]
Oelh sebab itu, orang bisa menggunakan ontologi dengan filsafat pertama
Aristoteles, yang kemudian disebut sebagai metafisika. Namun pada kenyataannya,
ontologi hanya merupakan bagian ertama metafisika, yakni teori mengenai yang
ada, yang berada secara terbatas sebagaimana adanya.
Beberapa ahli filsafat mempunyai banyak
pengertan yang berbeda satu sama lain. Namun, jika ditarik dalam garis benang
yang saling berkaitan, maka ada beberapa
hubungan yang hampir sama bahwa ontologi adalah ilmu tentang yang ada sebagai
cabang bagian filsafat yang sama.
Ontologi berupaya mencari inti yang termuat
dalam setiap kenyataan, dan menjelaskan yang ada meliputi semua realitas dalam
semua bentuknya.[4]
Sedangkan Jujun S. Suriasamantri mengatakan bahwa ontologi membahas apa yang
ingin kita ketahui, seberapa jauh kita ingin tahu, atau dengan perkataan lain
suatu pengkajian mengenai yang ada, yang ada yang universal, menampilkan
pemikiran semesta universal.[5]
Dasar ontologi ilmu berbicara tentang apakah
yang ingin diketahui ilmu? Atau apa yang bisa dirumuskan secara eksplisit yang
menjadi bidang telaah ilmu? Berbeda dengan agama atau bentuk pengetahuan yang
lainnya, maka ilmu membatasi dir hanya kepada kejadian yang bersifat empiris.
Secara sederhana objrk kajian ilmu ada dalam jangkauan pengalaman manuisia.
Objek kajian ilmu mencakup seluruh aspek kehidupan yang dapat dapat disebut
sebagai suatu pengetahuan empiris, di mana objek-objek yang berbeda di luar
jangkauan manusia tidak termasuk di dalam bidang penelaahan keilmuan tersebut.
Untuk mendapatkan pengetahuan tersebut, ilmu
membuat beberapa asumsi mengenai objek-objek empiris. Sebuah pengetahuan baru
dianggap benar selama kita bisa menerima asumsi yang dikemukakannya. Secara
lebih terperinci ilmu mempunyai tiga asumsi. Asumsi pertama menganggap bahwa
objek-objek tertentu mempunyai keserupaan satu sama lain umpamanya dalam hal
bentuk, struktur, sifat dan sebagainya, asumsi kedua, ilmu menganggap bahwa
suatu benda tidak mengalami perubaan dalam jangka waktu tertentu.
Kegiatan ilmu bertujuan mempelajari tingkah
laku suatu objek dalam suatu keadaan tertentu. Asumsi ketiga, ilmu menganggap
bahwa setiap gejala bukan merupakan suatu kejadian yang bersifat kebetulan.
Setiap gejala mempunyai hubungan pola-pola tertentu yang bersifat tetap dengan
urutan kejdian yang sama. Dalam pengertian ini ilmu mempunyai sifat
deterministik.
Dalam ontologi, ada tiga macam yang perlu
diketadui, 1) Objek formal ontologi, yaitu hakikat seluruh realitas. Bagi pendekatan
kuantitatif, realitas tampil dalam kuantitas atau jumlah, telaahnya akan
menjadi kualitatif. Realitas akan tampil menjadi aliran-aliran seperti
materialisme, idealisme, naturalisme, atau hylomorphisme. 2) Dasar ontologi
ilmu yang berbicara tentang apakah yang ingin diketahui ilmu, atau apa yang
bisa dirumuskan secara eksplisit yang menjadi bidang telaah ilmu? Berbeda
dengan agama atau bentuk pengetahuan yang lainnya, maka ilmu membatasi diri
hanya kepada kejadian yang bersifat empiris. Secara sederhana objek kajian ilmu
ada dalam jangkauan pengetahuan manusia. Objek kajian ilmu mencakup seluruh
aspek kehidupan yang dapat diuji oleh pancaindera manusia. Dalam batas-batas
tersebut maka ilmu mempelajari objek-objek empiris seperti batu-batuan,
binatang, tumbuh-tumbuhan, hewan dan manusia itu sendiri. Berdasarkan hal itu
maka ilmu dapat disebut sebagai pengetahuan empiris.dimana objek-objek yang
berbeda di luar jangkauan manusiaa tidak termasuk di dalam bidang penelaahan
keilmuan tersebut. 3) metode dalamontologi, tiga tingkatan abstraksi dalam
ontologi, yaitu abstraksi fisik, abstraksi bentuk, dan abstraksi metaphisik, abstraksi
fisik menampilkan keseluruhan sifat khas suatu objek. Abstraksi bentuk
mendeskripsikan sifat umum yang menjadi ciri semua yang sejenis dan abstraksi
metaphisik mengetangahkan prinsip umum yang
menjadi dasar dari semua realitas. Abstraksi yang dijangkau oleh ontologi
adalah abstraksi metaphisik.
b. Aliran-aliran ontologi
Dalam mengkaji ontologi, muncul beberapa
pertanyaan yang kemudian melahirkan aliran-aliran dalam filsafat. Dari
masing-masing pertanyaan menimbulkan beberapa sudut pandang mengenai ontologi.
Pertanyaan itu berupa apa yang ada itu? Bagaimanakah yang ada itu, dan di
manakah yang ada itu? Dalam menjawab masalah apakah yang ada itu lahir lima
aliran dalam filsafa yaitu sebagai berikut.
1. Aliran monoisme
Aliran ini berpendapat bahwa yang ada itu
hanya satu, tidak mungkin dua. Haruslah satu hakikat saja sebagai sumber yang
asal, baik yang asal berupa materi maupun yang berupa ruhani. Tidak mungkinn
ada hakikat bebas dan masing-masing berdiri sendiri. Haruslah salah satunya
merupakan sumber yang pokok dan dominan menentukan perkembangan yang lainnya.
Plato adalah tokoh filsuf yang bisa dikelompokkan dalam aliran ini, karena ia
menyatakan bahwa alam ide merupakan kenyataan yang sebenarnya.[6]
2. Materialisme
Aliran ini menganggap bahwa sumber yang asal
itu adalah materi, bukan rohani. Aliran ini sering juga dikenal dengan
naturalisme. Menurutnya bahwa xat mati merupakan kenyataan dan satu-satunya
fakta. Aliran pemikiran ini dopelopori oleh bapak filsafat yaitu Thales
(624-546). Ia berpendapat bahwa unsur asal adalah air, karena pentingnya bagi
kehidupan. Aleximander (585-528 SM) berpendapat bahwa unsur dasar itu adalah
udara, dengan alasan bahwa udara merupakan sumber dari segala kehidupan. Demokritos
(460-370)berpendapat bahwa hakikat alam ini merupakan atom-atom yang banyak
jumlanya, tidah dapat dihitng dan amat halus. Atom-atom itulah yang berupakan
asal kejadian alam.[7]
3. Idealisme
Idealisme berasal dari kata idea yaitu yang hadir dalam jiwa.[8]
Aliran yang menganggap bahwa dibalik realitas fisik pasti ada sesuatu yang
tidak tampak. Bagi aliran ini, sejatinya sesuatu justru terletak dibalik yang
fisik. Ia berbeda dalam ide-ide, yang fisik bagi aliran ini dianggap hanya
merupakan bayang-bayang . sifatnya sementara, dan selalu menipu. Eksistensi benda fisik akan rusak dan tidak
akan pernah membawa seseorang pada kebenaran sejati.[9] Dalam
perkembangannya, aliran ini ditemui dalam ajaran Plato (428-348 SM) denga teori
idenya. Menurutnya, tiap-tiap yang ada di dalam menti ada idenya yaitu konsep
universal dari tiap sesuatu. Alam nyata yang menempatii ruangan ini hanyalah
berupa bayangan saja dari ide itu. Jadi, idelah yang menjadi hakikat sesuatu,
menjadi dasar wujud sesuatu.[10]
4. Dualisme
Aliran ini berpendapat bahwa benda terdiri
dari dua macam hakikat sebagai asal sumbernya, yaitu hakikat materi dan hakikat
rohani, benda dan roh, jasad dan spirit. Kedua macam hakikat itu masing-masing
bebas dan berdiri sendiri, sama-sama azali dan abadi. Hubungan keduanya menciptakan
kehidupan dalam alam ini. Tokoh aliran ini adalah Descartes (1596-1690 M) yang
dianggap sebagi bapak filsafat modern. Ia menanamkan dua hakikat itu dengan
istilah dunia kesadara (rohani) dan dunia ruang (keberadaan). Ini tercantum
dalam bukunya Discours de la Methode (1637) dan Meditatio de Prima
Philosophia (1641). Dalam bukunya ini pula, ia menerangkan metodenya yang
terkenal dengan Cogito Descartes (metode keraguan Descartes/cartesian
Doubt). Disamping Descartes, ada juga Benedictus de Spinoza (1632-1677 M). dan
Gitifried Wilhelm von Leibniz (1646-1716 M).
5. Pluralisme
Aliran ini berpandangan bahwa berbagai macam bentuk
merupakan kenyataan. Pluralisme bertolak dari keseluruhan dan mengakui bahwa
segenap macam bentuk itu semuanya nyata. Pluralisme dalam Dictionary od
Philosophy and Relifion dikatakan sebagai paham yang menyatakan bahwa
kenyataan alam ini tersusun dari banyak unsur, lebih dari satu atau dua
entitas. Tokoh aliran ini pada masa Yunani kuno adalah Anaxagoras dan
Empedocles, yang menyatakan bahwa substansi yang ada itu terbentuk dan terdiri
dari empat unsur, yaitu tanah, air, api dan udara. Tokoh modern aliran ini
adalah William James (1842-1910 M, yang mengemukakan bahwa tiada kebenaran yang
mutlak, yang berlaku umum, yang bersifat tetap, yang berdiri sendiri, dan yang
lepas dari akaal yang mengenal.
6. Nihilisme
Nihilisme berasal dari bahasa Latin yang
berarti Nothing atau tidak ada. Sebuah doktrin yang tidak mengakui
validitas alternatif yang positif. Istilah nihilisme diperkenalkan oleh Ivan
Turgeniev pada tahun 1862 di Rusia. Doktrin tentang nihilisme sebenarnya sudah
ada sejak zaman Yunani kuno., yaitu pada pandangan Gorgias (485-360 SM) yang
memberikan tiga proposisi tentang realitas. Pertama, tidak ada sesuatupun yang
eksis. Kedua, bila sesuatu itu ada, ia tidak dapat diketahui. Ketiga, sekalipun
realitas itu dapat diketahui, ia tidak akan dapat kita beritahukan kepada orang
lain. Tokoh lain aliran ini adalah Friedrich Nietzche (1844-1900 M).dalam
pandangannya dunia terbuka untuk kebebasa dan kreativitas manusia. Mata manusia
tidak lagi diarahkan pada suatu dunia di belakang atau di atas dunia di mana ia
hidup.
7. Agnostisisme
Agnostisisme adalah paham
pengingkaran/penyangkalan terhadap kemampuan manusia mengetahui hakikat benda,
baik materi maupun ruhani[11].
Kata agnostisisme berasal dari bahasa Grik Agnostos yang berarti unknown.
A artinya not, gno artinya know. Timbilnya aliran inidikarenakan
belum dapatnya kenyataan yang berdiri sendiri dan dapat kita kenal.
c. Ontologi sains dan ontologi folsafat
Tahap berikutnya adalah tahap ontologi yang
membuat manusia terbebas dari kepungan kekuatan-kekuatan gaib,sehingga mampu
mengambil jarak dari objek di sekitarnya, dan dapat menelaahnya. Orang yang
tidak mengakui status ontologis objek-objek metafisika pasti tidak mengakui
status-status ilmiah dari ilmu tersebut. Itulah sebabnya mengapa tahap
onotologis dianggap tonggak ciri awal pengemangan ilmu. Dalam hal ini subjek
menelaah objek dengan pendekatan awal pemecahan masalah, semata-mata mengandalkan
logika berpikir secara nalar. Hal ini adalah salah satu ciri pendekatan ilmiah
yang kemudian dikembangkan lebih lanjut menjadi metode ilmiah yang makin mantap
berupa proses berpikir secara analisis dan sistematis. Dalam proses tersebut
berlangsung logika berpikir secara deduktif, yaitu menarik kesimpulan khusus
dari yang umum. Hal ini mengikuti teori koherensi., yaitu perihal melekatnya
sifat yang terdapat pada sumbernya yang disebut premis-premis yang telah teruji
kebenarannya, dengan kesimpulan yang pada gilirannya otomatis mempunyai
kepastian kebenaran.
Sesudah melalui tahap ontologi, maka
dimasukkan tahap akhir yaitu tahap fungsional. Pada tahap fungsional, sikap
manusia bukan saja bebas dari kepungan kekuatan-kekuatan gaib, dan tidak
semata-mata memiliki pengetahuan ilmiah secara empiris, melainkan lebih dari
itu. Ebagaimana diketahui, ilmu tersebut secara fungsional dikaitkan dengan
kegunaan langsung bagi kebutuhan manusia dalam kehidupannya. Tahap fungsional
sesungguhnya memasuki proses aksiologi filsafat ilmu, yaitu yang membahas amal
ilmiah serta fungsionalisme terkait dengan kaidah moral.
1. Ontologi sains adalah hakikat pengetahuan sains, yaitu pengetahuan yang
bersifat rasional-empiris. Masalah rasiolan dan empiris inilah yang akan
dibahas pada bagian berikut. pertama,
masalah rasional. Dalam sains, pernyataan atau hipotesis yang dibuat adalah “makan
telur ayam berpengaruh positif terhadap kesehatan”. Hal ini berdasarkan rasio:
untuk sehat, diperlukan gizi, telur ayam bayak mengandung gizi, karena itu,
logis bila semakin banyak makan telur ayam akan semakin sehat. Hipotesis ini
belum diuji kebenarannya. Kebenarannya barulah dugaan, tetapi hipotesis itu
telah mencakup dari syarat dari segi kerasionalannya. Kata rasional di sini
menunjukkan adanya hubungan atau sebab akibat.
Kedua, masalah empiris. Hipotesis yang dibuat tadi diuji
kebenarannya mengikuti prosedur metode ilmiah. Untuk menguji hipotesisi ini
digunakan eksperimen. Misalnya, pada contoh hipotesis diatas, pengujiannya
adalah dengan cara mengambil satu kelompok sebagai sampel, yang diberi makan
telur ayam secara teratur selama enam bulan, sebagai kelompok eksperimen.
Demikian juga mengambil satu kelompok yang lain, yang tidak boleh makan telur
ayam selama enam bulan, sebagai kelompok kontrol. Setelah enam bulan, kesehatan
kedua kelompok diamati. Hasilnya, kelompok yang teratur makan telur ayam rata-rata
lebih sehat.
Setelah terbukti (sebaiknya eksperimen dilakukan
berkali-kali), maka hipotesis yang dibuat berubah menjadi teori. Teori makan
telur ayam berpengaruh terhadap kesehatan adalah teori yang rasional-empiris.
Teori seperti ini disebut sebagai teori ilmiah.
2. Ontologi filsafat, ini adalah hakikat pengetahuan filsafat. Poedjawijatna
mendefinisikan sebagai jenis pengetahuan yang berusaha mencari sebab yang
sedalam-dalamnya bagi segala sesuatu berdasarkan akal pikiran belaka, sedangkan
bakry mengakatan bahwa filsafat adalah jenis pengetahuan yang menyelidiki
segala sesuatu dengan mendalam mengenai ketuhanan, alam semesta dn manusia,
sehingga dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana hakikatnya sejauh
yang dapat dicapai oleh akal manusia dan bagaimana sikap manusia itu seharusnya
setelah mencapai pengetahuan itu.[12]
Kedua definisi di atas menjelaskan satu hal yang penting
bahwa filsafat adalah pengetahuan yang diperoleh dari berfikir, dan hasilnya
berupa pemikiran (yang logis tetapi tidak empati).
2.
Epistemologi
Epistemologi merupakan cabang phylosophy yang
mempelajari pengetahuan. Epistemologi mencoba menjawab pertanyaan dasar apa
yang membedakan pengetahuan yang benar dan pengetahuan yang salah. Secara
praktis, pertanyaan-pertanyaan ini ditranslasikan ke dalam masalah-masalah
metodologi ilmu pengetahuan. Misalnya seperti: bagaimana kita bisa
mengembangkan sebuah teori atau model yang lebih baik dari teori lain? Relatif
sejalan dengan ini, maka sebagai salah satu komonen dalam filsafat ilmu,
epostemologi difokuskan pada telaah tentang bagaimana cara ilmu pengetahuan
memperoleh kebenarannya, atau bagaimana cara mendapatkan pengetahuan yang benar[13].
Atau bagaimana sesorang itu tahu apa yang mereka ketahui.
a. Pengertian epistemologi
Menurut kattsoff bahwa ontologi dan
epistemologi merupakan hakikat kefilsafatan, artinya keduanya membicarakan
mengenai kenyataan yang terdalam dan bagaimana mencari makna dan kebenaran.
Secara etimologis, epistemologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu episteme
dan logos. episteme artinya pengetahuan, biasanya dipakai untuk
menunjuk pengetahuan sistematik. Sehingga dapat disimpulkan bahwa epistemologi
adalah pengetahuan sistematik tentang pengetahuan.[14]
Istilah ini pertama kali dipopulerkan oleh J.F Ferier tahun 1854 yang membuat
dua cabang filsafat, yaitu epistemologi dan ontologi (on=being, wujud, apa +
logos = teori), ontologi (teori tentang apa). Secara sederhana dapat dikatakan
bahwa filsafat ilmu adalah dasar yang menjiwai dinamika proses kegiatan
memperoleh pengetahuan secara ilmiah. Ini berarti bahwa terdapat pengetahuan
yang ilmiah dan tidak ilmiah. Adapun yang tergolong ilmiah ialah disebut ilmu
pengetahuan atau singkatnya ilmu saja, yaitu akumulasi pengetahuan yang telah
disistematisasi dan diorganisasi sedemikian rupa, sehiga memenuhi asas
pengetahuan secara prosedural, metologis, teknis, dan normatif akademis. Dengan
demikian teruji kebenaran ilmiahny, sehingga memenuhi kesahihan atau validitas
ilmu, atau secara ilmiah dapat dipertanggungjawabkan.[15]
Secara singkat dapat dikatakan bahwa
epistemologi merupakan salah satu cabang filsafat yang mempersoalkan mengenai
masalah hakikat pengetahuan. Dengan kata lain, epistemologi merupakan disiplin
filsafat yang secara khusus hendak memperoleh pengetahuan tentang pengetahuan. Sedangkan
pengetahuan yang tidak ilmiah adalah masih tergolong prailmiah. Dalam hal ini
berupa pengetahuan hasil serapan inderawi yang secara sadar diperoleh, baik
yang telah lama maupun baru didapat.
b. Metode untuk memperoleh pengetahuan
Dalam memperoleh pengetahuan, dalam filsafat
mendasarkan beberapa metode, yaitu:
1. Empirisme
Empirisme adalah suatu cara atau metode dalam
filsafat yang mendasarkan cara memperoleh pengetahuan dengan melalui
pengalaman. John locke, empirisme britania , mengatakan bahwa pada waktu
manusia dilahirkan, akalnya merupakan jenis catatan yang kosong (tabula rasa),
dan di dalam buku catatan itulah dicatat pengalaman-pengalaman inderawi.
Menurut locke, seluruh sisa pengetahuan kita diperoleh dengan jalan menggunakan
sert memperbandingkan ide-ide yang diperoleh dari penginderaan serta refleksi
yang pertama-pertama dan sederhana tersebut.
Ia memandang akal sebagai jenis tempat penampungan yang
secara pasif menerima hasil-hasil penginderaan tersebut. Ini berarti semua
pengetahuan kita, betapapun rumitnya dapat dilacak kembali sampai kepada
pengalaman-pengalaman inderawi yang pertama-tama dapat diibaratkan sebagai
atom-atom yang menyusun objek-objek material.apa yang tidak dapat atau tidak
perlu dilacak kembali secara demikian itu bukanlah pengetahuan, atau
setidak-tidaknya bukanlah pengetahuan mengenai hal-hal yang faktual.
2. Rasionalisme
Rasionalisme berpendirian bahwa sumber
pengetahuan terletak pada akal. Bukan karena rasionalisme mengingkari nilai
pengalaman, melainkan pengalaman paling-paling dipandang sebagai sejenis
perangsang bagi pikiran. Para penganut rasionalisme yakin bahwa kebenaran dan
kesalahan terletak di dalam ide kita, dan bukannya di dalam diri barang
sesuatu. Jika kebenaran mengandung makna dan mempunyai ide yang sesuai dengan
atau menunjuk kepada kenyataan, maka kebenaran hanya dapat ada di dalam pikiran
kita dan hanya dapat diperoleh dengan akal budi saja.
3. Fenimenalisme
Bapak fundamentalisme adalah Immanuel kant. Kant membuat
uraian tentang pengalaman. Barang sesuatu sebagainama terdapat dalam dirinya
sendiri merangsang alat inderawi kita dan diterima oleh akal kita dalam
bentuk-bentuk pengalaman dan disusun secata sistematis dengan jalan penalaran.
Karena itu kita tidak dapatpernah mempunyai pengetahuantentang barang sesuatu
seperti yang enampak kepada kita, artinya pengetahuan tentang gejala (Phenomenon).
Bagi kant para penganut empirisme benar bila berpendapat bawha semua
pengetahuan didasarkan pad pengalaman-meskipun benar hanya untuk sebagian.
Tetapi para penganut rasionalisme juga benar, karena akal memaksakan
bentuk-bentuknya sendiri terhadap barang sesuatu serta pengalaman.
4. Intusionisme
Menurut Bergson, intuisi adalah suatu saran
untuk mengetahui secara langsung dan seketika. Analisa, atau pengetahuan yang
diperoleh dengan jalan pelukisan, tidak akan dapat menggantikan hasil
pengenalan secara langsung dari pengetahuan intuitif. Salah satu di antara
unsur-unsur yang berharga dalam intuisionisme Bergson ialah, paham ini
memungkinkan adanya suatu bentuk pengalaman di samping pengalaman yang dihayati
oleh indera. Dengan demikian data yang dihasilkannya dapat merupakan bahan
tambahan bagi pengatahuan di samping pengetahuan yang dihasilkan oleh
penginderaan. Kant masih tetap benar dengan mengatakan bahwa pengetahuan
didasarkan pada pengalaman, tetapi dengan demikian pengalaman harus mliputi
baik pengalaman inderawi aupun pengalaman intuitif.
c. Problem kebenaran dalam epistemologi
Dalam hal ini titus mencatat persoalan pokok
epistemologi sebagai penyelidikan filsafat terhadap pengetahuan, antara lain
adalah:
1) menyangkut watak pengetahuan. Dengan pernyataan pokok
apakah ada dunia yang benar-benar berada di luar pikiran kita, dan kalau ada
apakah kita berada dapat menengetahuinya? 2) menyangkut sumber pengetahuan,
dengan pertanyaan pokok dari manakah pengetahuan yang benar itu datang? Apakah
yang eruakan asal mula pengetahuan kita? Bagaimanakah cara kita mengetahui bila
kita mempunyai penngetahuan? Apakah yang merupakan bentuk pengetahuan itu?
Corak-corak pengetahuan apakah yang ada? Bagaimana caranya kita memperoleh
pengetahuan? 3) menyangkut kebenaran pengetahuan, dengan pertanyaan okok apakah
kebenaran dan kesalahan itu? Apakah kesalahan itu? Apakah pengetahuan itu
benar? Dan bagaimana kita dapat membedakan antara pengetahuan yang benar dan
yang salah?
d. Justifikasi epistemologi
1) evidensi. Yaitu cara bagaimana kenyataan
itu dapat hadir atau perwujudan dari yang ada bagi akal. Konsekuensi dari
pengertian itu adalah bahwa evidensi sangatlah bervariasi. Akibat lebih lanjut
adalah persetujuan yang dijamin oleh kehadiran ada yang bervariasi ini juga
akan bervariasi. Seorang positivis mungkin menyatakan pengandaian bahwa masa
depan adalah mirip dengan masa lampau. Namun evidesi yang menjamin kepastiannya
bukanlah kepastian yang sedemikian rupa sehingga menjadikan sebaliknya tidak
terbayangkan. Evidesi dari perilaku manusia tentu berbeda dengan hal yang
semata-mata bersifat fisik, sebab kepastian manusiawi adalah bersifat
hipotesis. misalnya saya yakin secara moral bahwa apabila supir bus itu normal
maka ia tidak akan menabrakkan mobilnya ke pohon. Kesaksian adalah salah satu
sumber dari keyakinan moral kepastiannya agak diremehkan. Namun banyak orang
yang lebih yakin pada pernyataan-pernyataan yang bersumber dari kesaksian
daripada tentang hukum gravitasi. 2) kesaksian. Dalam hal ini
menurutkebenarandasar atau yang disebut sebagai kebenaran-kebanaran primer.
Prinsip pertama adalah suatu kepastian dasar yang mengungkapkan eksistensi
subjek. Subjek yang mengetahui tidak mesti identik dengan kegiatannya, ada
perbedaan subjek dan aktivitasnya. Ada kesadaran akan mandirinya subjek dan
manunggalnya dengan aktifitasnya adalah penting, sebab ada beberapa aliran yang
mengatakan bahwa pakarti adalah bundle of action, aliran ini
memposisikan pakarti merupakan aksidensi dan bukan substansi. Kepastian dasar
inni tidak saja merupakan jawaban yang mendasaar terhaadap berbagai macam sikap
dan ajaran seperti skeptisisme dan relativisme, tetapi karena kepastian dasar
merupakan dasarnya segala keastian. 3) keraguan. Ada dua aliran yang mempertanyakan
kepastianmengenai adanya kebenaran. Keduanya dapat dianggap sebagai aliran yang
mempermasalahkan, meragukan, dan mempertanyakan kebenaran dan adanya kebenaran.
Pertama, aliran skeptisisme-diktriner berkeyakinan bahwa pengetahuan dan
kebenaran tidak ada, yang kurang ekstrem mengatakan sesungguhnya tidak ada cara
untuk mengetahui bahwa kita mempunyai pengetahuan. Misalnya, ajaran ini
menganjurkan agar orang tidak melibatkan diri dalam kegiatan intelektual
tertentu karena mempunyai pendapat tentang sesuatu untuk tidak melibatkan diri
secara intelektual, adalah sudah merupakan kegiatan intelektual. Kedua, aliran
skepetisisme-metodik menyatakan bahwa pengethuan dan kebenaran ada, tetapi
tidak sebagai doktrin, melainkan sebagai metoda untuk menemukan kebenaran dan
kepastian. Aliran ini merupakan jalan untuk menemukan kepastian kebenaran.
3.
Aksiologi
Aksiologi adalah asas mengenai cara bagaimana
menggunakan ilmu pengetahuan yang secara epistemologis diperoleh dan disusun.
Menurut kamus The Random House Dictionary of The English Language:
aksiologi adalah cabang ilmu filsafat yng berkaitan dengan nilai, seperti
etika, estetika, atau agama.[16]
Secara historis, istilah yang lebih umum
dipakai adalah etika atau moral. Tetapi dewasa ini, istilah aksio (nilai)
dan logos (teori) lebih akrab
dipakai dalam dialog filsafat. Jadi aksiologi bisa disebut sebagai the
theory of value atau teori nilai. Yaitubagian dari filsafat yang menaruh
perhatian tentang baik dan buruk (good and bad), benar dan salah (right
and wrong), serta tentang cara dan tujuan (means and ends).
Aksiologi emencoba merumuskan suatu teori yang konsisten untuk perilaku etis.
Ia bertanya seperti apa itu baik (what is good). Tatkala banyak yang
teridentifikasi, maka memungkinkan seseorang untuk berbicara tentang moralitas,
yakni memakai kata-kata atau konsep seharusnya atau sepatutnya (ought/should)
Aksiologi terdiri dari analisis tentang
kepercayaan, keputusan, dan konsep-konsep moral dalam rangka menciptakan atau
menemukan suatu teori nilai. Terdapat dua kategori dasar aksiologi, yaitu: 1)
objektifisme dan 2) subjektifisme. Keduanya beranjak dari pertanyaan yang sama.
Apakah nilai itu bersifat bergantung atau tidak bergantung pada pedapat manusia
(dependent upon or nindependent of mandkind)? Dari sini muncul empat
pendekatan etika, dua yang pertama beraliran objektif, sedangkan dua berikutnya
beraliran subjektif[17]
Dengan demikian, sebagai cabang filsafat yang
berbicara tentang nlai (what is the vaue), aksiologi merupakan ilmu yang
memnerikan pertimbangan pada sesuatu yang berharga, berkualitas, bermakna dan
bertujuan bagi kehidupan manusia, individu maupun kelompok. Umumnya orang
menimbang nilai dengan kadar baik atau buruk (etika), indah atau jelek
(estetika). Karena itu, nilai mengarahkan tindakan untuk membentuk preferensi
nilai (system nilai atau nilai)[18]
secaara etimologis aksiologi berasal dari kata axia (nilai atau value:
inggris), dan logos (perkataan, pikiran, ilmu).untuk itu, aksiologi
berarti ilmu pengetahuan yang menyelidiki hakekat nilai, yang pada umumnya
ditinjau dari sudut pandang kefilsafatan.[19]
Aksiologi juga diartikan nilai yang berkaitan
dengan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh, pada umumnya ditinjau dari
sudut pandang kefilsafatan.karena kegunaan ilmu tidak lepas dari kepentingan
manusia, artinya ilmu harus membawa dampak positif bagi manusia. Bukan
sebalikna membawa petaka bagi manusia. Meskipun ilmu itu sendiri merupakan alat
bagi manusia untuk mencapai kebahagiaan hiduonya, dan emiliki sifat netral
sehingga ilmu tidak mengenal baik dan ataupun bburuk, namun semuanya tergantung
pada pemilik dalam menggunakannya.[20]
Oleh karena itu,nilai kegunaan ilmu dapat dilihat pada kegunaan fisafat ilmu
atau untuk apa filsafat ilmu itu digunkan,kita dapat memulainya dengan melihat
filsafat sebagai tiga hal, yaitu:
a. fislafat sebagi kumpulan teori digunakan
memahami dan mereaksi dunia pemikiran. Jika seseorang ikut membentuk dunia atau
ikut mendukung suatu ide yang membentuh suatu dunia, atau hendak menentang
suatu sistem kebudayaan atau sistem ekonomi, atau sistem politik, maka
sebaiknya mempelajari teori-teori filsafatnya. Inilah kegunaan mempelajari
teori-teori filsafat ilmu.
b. filsafat sebagai pandangan hidup. Flsafat
dalam posisi yang kedua ini semua teori ajarannya diterima kebenarannya dan
dilaksanakan dalam kehidupan. Filsafat ilmu sebagai pandangan hidup gunanya
ialah untuk prtunjuk dalam menjalani kehidupan.
c. filsafat sebagai metodologi dalam
memecahkan masalah. dalam hidup ini kita menghadapi banyak masalah. bila ada
batu di depan pintu, setiap keluar pintu itu kaki kita tersandung, maka batu
itu masalah. kehidupan akan dijalani lebih enak bila ,asalah-maslah itu dapat
diselesaikan.ada banyak cara menyelesaikan masalah, mulai dari cara yang
sederhana sampai yang paling rumit. Bila cara yang digunakan amat sederhana
maka biasanya masalah tidak terselesaikan secara tuntas, penyelesaian yang
detil itu biasanya dapat mengungkap semua masalah yang berkembang dalam
kehidupan manusia.
Ilmu pengetahuan bebas niali. Persoalan ilmu
pengetahuan bebas niali mulai mencuak ketika manusia sadar bahwa dirinya telah
teraliniasi oleh ciptaannya sendiri, yaitu ilmu pengetahuan. Gagasan tersebut
muncul dari gerakan positivis yang mendobrak etika kebudayaan Yunani kuno, yang
berupaya membangun pengetahuan yang benar berdasarkan pada konsep bios
theoretikhos (dimana pengetahuan itu diyakini akan diperoleh melalui
serangkaian ritus keagamaan), kemudian digantikan oleh konsep ontologi yang
lahir sebagai upaya para filsuf Yunani (kelompok pemikir yang kemudian
bermetamorfosis menjadi madzhab positivisme),yang lebih mengutamanakan kekuatan
dan kemampuan rasio serta pengamatan.
D. Kesimpulan
1. Ontologis; cabang ini menguak tentang objek apa yang di telaah ilmu?
Bagaimana wujud yang hakiki dari objek tersebut ? bagaimana hubungan antara
objek tadi dengan daya tangkap manusia (sepert berpikir, merasa dan mengindera)
yang membuakan pengetahuan?. Epistemologi berusaha menjawab bagaimna proses
yang memungkinkan di timbanya pengetahuan yang berupa ilmu? Bagaimana
prosedurnya? Hal-hal apa yang harus di perhatikan agar kita mendapatkan
pengetahuan yang benar? Apa yang disebut kebenaran itu sendiri? Apakah
kriterianya? Cara/tehnik/sarana apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan
yang berupa ilmu?. Aksiologi menjawab, untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu
itu di pergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan
kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan
pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan
operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral?
2. Dalam sudut pandang ontologi, ada aliran” yang masing” memilili cirikhas
tersendiri. Baik dari sudut pandang monoisme, materialisme, idealisme,dualisme,
pluralisme, nihilisme maupun agristisisme.
3. Dalam memahami aksiologi ilmu, maka dapat dipahami tentang manfaat atau
kegunaan dari ilmu itu sendiri. Baik sebagai teori untuk memahami dan mereaksi
dunia pemikiran, sebagai pandangan hidup maupun sebagai metodologi pemecahan
masalah.
DAFTAR PUSTAKA
A.B Syah, Metodologi
Ulmu Pengetahuan. Jakarta. YOI, 1986.
Ahmad Tafsir, Filsafat
Ilmu. Bandung. Rekayasa Rosdakarya, 2006.
Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu. Jakarta.
PT Raja Grafindo Persada, 2007. hlm. 138
Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu. Jakarta.
PT Raja Grafindo Persada, 2007.
Cecep Sumarna, Filsfat Ilmu Dari Hakikat
Menuju Nilai. Bandung: Pustaka Bani Quraisy, 2006.
Fautanu Idzam, Filsafat
Ilmu. jakarta, referenci. 2012.
H. Abudin Nata dkk, Ilmu Agama
dan Ilmu Hukum. Jakarta. UIN Jakarta perss.
Harun nasution,Filsafat
Agama. Jakarta. Bulan Bintang, 1982.
Imam Wahyudi, Pengantar Epistemologi. Yogyakarta,
Faisal Foundation, Badan Penelitian Filsafat UGM, 2007.
Imam Wahyuni, Pengantar Epistemologi. Yogyakarta.
Faisal Foundation, Badan Penelitian Filsafat UGM. 2007.
Jujun S Suriasamantri, Pengantar
Ilmu dalam Perspektif. Jakarta: Gramedia 1985.
Jujun S Suriasamantri, Pengantar Ilmu dalam
Perspektif. Jakarta: Gramedia 1985.
Jujun S. Suriasumantri, Filsafat
Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: pustaka Sinar Harapan, 1996.
Luren Bagus, Kamus Filsafat. Jakarta,
PT. Gramedia Pustaka Utama, 2000.
Luren Bagus, Kamus Filsafat. Jakarta,
PT. Gramedia Pustaka Utama, 2000.
M. Zainuddin, Filsafat Ilmu
Perspektif Pemikiran Islam. Jakarta. Lints Pustaka Publisher, 2006.
Onong Uchjana Effendi, ilmu,
Teori daFilsafat Komunikasi. Bandung:cira Aditya Bakt, 2003.
Siswanti, pendidikan Islam Dalam
Perspektif Filosofis. STAIN Pmk pres, 2009.
Siswanto, pendidikan islam dalam perspektif
filosofis. (tain pkm pres 2009),
[1] A.B Syah, Metodologi Ulmu Pengetahuan, (Jakarta:
YOI, 1986), h.85
[2] Luren Bagus, Kamus Filsafat, (Jakarta,
PT. Gramedia Pustaka Utama, 2000), 746-747
[3] Luren Bagus, Kamus Filsafat, (Jakarta,
PT. Gramedia Pustaka Utama, 2000), 750
[5] Jujun S Suriasamantri, Pengantar Ilmu
dalam Perspektif, (Jakarta: Gramedia 1985), h. 5
[6] M. Zainuddin, Filsafat Ilmu Perspektif
Pemikiran Islam, (Jakarta: Lints Pustaka Publisher, 2006), hlm. 25
[7] Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu
Sebuah Pengantar Populer, (Jakarta: pustaka Sinar Harapan, 1996), hlm. 64
[8] Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu, (Jakarta:
PT Raja Grafindo Persada, 2007), hlm. 138
[9] Cecep Sumarna, Filsfat Ilmu Dari
Hakikat Menuju Nilai,(Bandung: Pustaka Bani Quraisy, 2006), h. 48
[10] Harun nasution,Filsafat Agama, (Jakarta: Bulan Bintang, 1982). H. 53
[11] Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu, (Jakarta:
PT Raja Grafindo Persada, 2007), hlm.148
[12] Ahmad Tafsir, Filsafat Ilmu..... h. 67
[13] Jujun s h. 33
[14] Imam Wahyudi, Pengantar Epistemologi, (Yogyakarta,
Faisal Foundation, Badan Penelitian Filsafat UGM, 2007), h. 1
[15] Imam Wahyuni, Pengantar Epistemologi h.3
[16] Onong Uchjana Effendi, ilmu, Teori
da... h.326
[17] Fautanu Idzam, Filsafat Ilmu (jakarta,
referenci2012) h. 202
[18] Siswanto, pendidikan islam dalam
perspektif filosofis. (stain pkm pres 2009), h. 47
[19] Siswanti, pendidikan Islam Dalam
Perspektif Filosofis, (STAIN Pmk pres, 2009) h.47
Komentar
Posting Komentar